Langsung ke konten utama

PNS

Kamis, 31 Oktober '24

MasyaAllah Tabarakallah...
Oo ternyata begini rasanya,
Haru hati, ketegangan diri yang berkompetisi dengan kemampuan dan rezeki.

Dari do'a dan harapan serta motivasi suport yang sangat luar biasa
Gap year teruntuk pengalaman itu sungguh membahagiakan, tercampur dengan bumbu-bumbu nano rasanya

Semenjak duduk di bangku perkuliahan, dari jenjang S1 hingga lanjut tanpa jedah ke jenjang S2 rasanya lebih MasyaAllah
Terasa lelah yang tidak dapat terdefenisikan,
Fisik, hati, pikiran rasanya sedang bertarung dengan kapasitasnya masing-masing

Kembali ke topik awal, mencoba pertama sekali tanpa belajar, dan tanpa melihat pola, dan hanya bermodalkan do'a, amal saja tidak cukup rasanya tanpa adanya usaha
Tidak menyesal, karena disaat 2 bulan belakangan ini sunggguh dirakit dengan anak tangga yang terjal
Tidur tak berkecukupan, mata yang mulai menghitam, ditambah pikiran yang sungguh kata orang-orang todak perlu ditambah lagi menjadi beban. Malam-malam buat beristirahat, tetapi ditambah penyedap kaki yang kram melangkah penuh perjuangan, dengan sup mata yang rasanya asin tanpa residu gula kebahagiaan. 

Ahhh mengeluh itu realistis, tetapi tetap menanamkan kepercayaan atas ridha-Nya jauh lebih kevalidan yang sesungguhnya bahwa semua tidak ada sia-sia, karena perjuangan itu sudah di atur dengan segala kekurangannya.

H-2 sebelum menghadapi ujian rasanyaasih hampa, dengan pikiran yang berotasi dari tugas dan kelelahan tugas mahasiswa baru yang banyak menyimpan kata lelah ini.
Telfon genggam rasanya tidak sempat berkabar dengan sanak saudara ,  mencyrahkan kesedihan saja rasanya sulit tersampaikam. Sekiramya aku merasakan bahwa aku sudah berada di fase pendewasaan. 

Tidak berhenti di H-2 keberangkatan, H-1 sudah mulai terketuk hati kecil mempertanyakan waktu yang singkat dibarengi dengan jam ibadah berjarak -+ 30 menit. Sulit mempertimbangkan jarak kos dengan lokasi berkisah 15 menit ditempuh, masya Allah... Terasa lebih haru. Alhamdulillah atas keridhan itu aku memilih petunjuk untuk mengusaikan shalat dulu dan beranjak ke lokasi demgan waktu yang singjat dan diperlancar tanpa hambatan apapun.

Haru bahagia yang aku rasakan, setiba sampai di tempat berkumpulnya latar belakang, dan aku rasa dengan do'a yang sama.
Telfon genggamku sellu membwrikan notif yang membuat hatiku berdebuk bahwa yang mendukung aku itu banyak.
Tetapi aku memilih meletakkan ruang ikhlas atas ridha-Nya, jika bukan sekarang dipertemukan di hari lain. Bahkan sikap pesimis yang aku miliki muncul pada fase saat ini pula, lagi-lagi orang-orang sangat percaya bahwa aku tidak akan gagal. Tetapi aku lebih percaya bahwa Allah maha adil. Orang yang berusaha dengan sungguh, ikhlas yang sangat luar biasa akan di dahulukan pada waktu yang tepat.

Singkat cerita, di dalam ruang seduh, mata yang berkecamuk, kepanikan yang aku rasakan rasanya otak berotasi tidak seperti biasanya. Menjawab pertanyaan dengan ikhlas dan hingga dipertengahan waktu aku merasakan untuk menyerah, tetapi larena motivasi oramg-orang teedekat aku kembali fokus untuk tetap menghadapi penyelesaiannya meski waktu tinggal 20 menit dengan soal yang masih terjawab 35%.

Hingga waktu usai, aku merasa gagal dengan persiapan kosong. Ternyata aku tidak khawatir karena Allah sudah mempersiapkan ruang ikhlas ku yang sangat luar biasa disaat itu. Aku percaya moment persaingan ini akan aku ulang di tahap selanjutnya, dan motivasinya tetap "pengalaman adalah guru terbaik". Persiapkam sedari awal dan rasakan dampaknya di akhir nanti. 

Yogyakarta, 31 Oktober '24
°Viona

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hupomone~

        Di setiap anak tangga yang dinaiki tahun silam, batin terasa berotasi yang tak pernah bisa diam. Antara rumah yang memanggil dengan sayang, atau pekerjaan impian yang sudah lama dirindukan. Di persimpangan itu, kuambil jalan, yang mungkin tak semua insan mendambakan. Akan tetapi, ia setia mengisi waktu yang kelam, menyulap hampa jadi warna yang bermakna .          Hari demi hari berlalu, semua telah usai. Mungkin keluhan lelah yang sempat di lantunkan ternyata sangat tidak pantas untuk diri yang masih banyak kekurangan. Bukannya tumbuh malah runtuh, tetapi, hamba sahaya yang bertumpu pada rasa kesabaran, akan nikmat syukur yang tak akan pernah hilang diraih dengan rasa bangga ia akan bangkit lalu merunduk . ___________________~           Episode perjalanan ini terasa lelah, haru, sedih, senang, dan tak lupa pula rasa nikmat syukur atas kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada hambanya yang tenang...

Tersesat Dalam Hutan

"Tersesat Dalam Hutan" Oleh : Viona Febiyola Bakkara Terdengar jatuhnya ranting yang tak sempat ku kokohkan dengan akar Kerasnya suara katak,  Seolah merayu hujan yang tak ingin aku pergi untuk berteduh... Dedaunku mulai gugur,  Kerasnya badai yang tak bisa lagi aku bersembunyi di balik selimut Akarku tetap kuat,  Berharap pada pemilik hutanku, untuk mengusaikan panggilan-Nya... Rintik badainya telah usai Kuhidupkan api, Ku setir dengan lembutnya suara sepertiga malam,  Kualuni syahdunya suara suci berkumandang, Penuh harap tersampaikan di atas langit pada tuhan... Rantingku mulai tersusun dengan akarnya yang penuh harap pada tumpuh, Dedaunnya yang kecil satu persatu mulai keluar Ku baca kembali buku-buku dan kunikmati seseduh kopi Ceritanya di balik buku-buku,  Takkan ku biarkan tersesat kembali dalam hutanku Hutanku mulai kembali... Penuh harap pada ambisi Yogyakarta, 21 Feb '25

Obat

Setelah bertahun-tahun berusaha untuk selalu memberikan tangan, ternyata aku tak sekuat itu. Mengobati diri dari lelahnya pencapaian ternyata tidak semudah itu.. Nafas berhembus lebih cepat, mata terlihat lebih buram, jantung berdetak lebih pelan. Pundak-pundak itupun tak mau kalah, ternyata...