Langsung ke konten utama

Hujan Februari

"FEBRUARI"

Allahumma Shoyyiban nafi'an

Kamu merindukan hujan untuk mengenang seseorang, lantas apakah kamu sudah merindukan dirimu yang berperan baik untuk orang lain?

Perihal hujan di bulan februari
Tentang hujan yang mengingatkan untuk kita semua berfikir sejenak
Diam, tenang, berdamai, atau bahkan berteriak kencang untuk meluapkannya.

Pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita mengapa, bagaimana, kapan dan sebagainya.
Sedikit berpesan sebelum aku mengakhiri kalimat-kalimat indah yang kurangkai hari ini
Bunyinya seperti ini :
 " hati yang keras akan terkikis. Air mata yang selalu membeku akan mudah mencair, jika kita belajar ber-(EMPATI) pada orang lain disitu pula peran kita meringankan luka dan dukanya." 

Seperti pelangi yang hadir seusai hujan!

Lantas apakah kamu mau menjadi salah satunya?

-viona-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hupomone~

        Di setiap anak tangga yang dinaiki tahun silam, batin terasa berotasi yang tak pernah bisa diam. Antara rumah yang memanggil dengan sayang, atau pekerjaan impian yang sudah lama dirindukan. Di persimpangan itu, kuambil jalan, yang mungkin tak semua insan mendambakan. Akan tetapi, ia setia mengisi waktu yang kelam, menyulap hampa jadi warna yang bermakna .          Hari demi hari berlalu, semua telah usai. Mungkin keluhan lelah yang sempat di lantunkan ternyata sangat tidak pantas untuk diri yang masih banyak kekurangan. Bukannya tumbuh malah runtuh, tetapi, hamba sahaya yang bertumpu pada rasa kesabaran, akan nikmat syukur yang tak akan pernah hilang diraih dengan rasa bangga ia akan bangkit lalu merunduk . ___________________~           Episode perjalanan ini terasa lelah, haru, sedih, senang, dan tak lupa pula rasa nikmat syukur atas kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada hambanya yang tenang...

Tersesat Dalam Hutan

"Tersesat Dalam Hutan" Oleh : Viona Febiyola Bakkara Terdengar jatuhnya ranting yang tak sempat ku kokohkan dengan akar Kerasnya suara katak,  Seolah merayu hujan yang tak ingin aku pergi untuk berteduh... Dedaunku mulai gugur,  Kerasnya badai yang tak bisa lagi aku bersembunyi di balik selimut Akarku tetap kuat,  Berharap pada pemilik hutanku, untuk mengusaikan panggilan-Nya... Rintik badainya telah usai Kuhidupkan api, Ku setir dengan lembutnya suara sepertiga malam,  Kualuni syahdunya suara suci berkumandang, Penuh harap tersampaikan di atas langit pada tuhan... Rantingku mulai tersusun dengan akarnya yang penuh harap pada tumpuh, Dedaunnya yang kecil satu persatu mulai keluar Ku baca kembali buku-buku dan kunikmati seseduh kopi Ceritanya di balik buku-buku,  Takkan ku biarkan tersesat kembali dalam hutanku Hutanku mulai kembali... Penuh harap pada ambisi Yogyakarta, 21 Feb '25

Obat

Setelah bertahun-tahun berusaha untuk selalu memberikan tangan, ternyata aku tak sekuat itu. Mengobati diri dari lelahnya pencapaian ternyata tidak semudah itu.. Nafas berhembus lebih cepat, mata terlihat lebih buram, jantung berdetak lebih pelan. Pundak-pundak itupun tak mau kalah, ternyata...